Satya Pada Nawa Ruci merupakan ogoh-ogoh karya
ST. Swastika, Banjar Pekambingan, Kelurahan Dauh Puri, Denpasar Barat. Tema yang diangkat adalah spiritual dan perjalanan batin manusia melalui pendekatan pewayangan. Dari judulnya bisa dilihat bahwa karya ini sudah memberi penekanan pada nilai satya atau keteguhan dalam menempuh jalan menuju kebenaran sejati.
Satya Pada Nawa Ruci menonjolkan sosok Bima sebagai pusat cerita, hadir dalam situasi perjuangan yang sarat tenaga dan ketegangan. Ia digambarkan berhadapan dengan Naga Nembur Nawa, naga berkepala sembilan yang secara bentuk sudah memberi kesan kuat, rumit, dan penuh tantangan. Kehadiran Dewa Ruci yang kecil namun menyerupai Bima menjadi elemen visual yang penting, karena menghadirkan kontras yang tajam antara kekuatan lahiriah, rintangan besar, dan tujuan akhir yang tampak sederhana tetapi sesungguhnya sangat mendalam.
Inspirasi karya ini bersumber dari kisah pewayangan tentang perjalanan Sang Bima dalam mencari Tirta Pawitra, yaitu air suci yang menjadi lambang pencarian kebenaran sejati dalam diri. Dalam perjalanannya, Bima tidak hanya mengandalkan kekuatan, tetapi juga keteguhan hati, kesiapan mental, serta kesetiaan kepada gurunya. Perjalanan itu digambarkan seperti air yang terus mengalir menuju muara, tetap bergerak meskipun harus melewati medan yang berat. Pertarungan melawan Naga Nembur Nawa menjadi bagian penting dari kisah ini, karena melambangkan perjuangan manusia saat berusaha mencapai tujuan hidupnya di tengah berbagai rintangan.
Secara filosofis, “Satya Pada Nawa Ruci” memuat pesan yang sangat kuat tentang ketulusan, ketekunan, dan kesetiaan pada ajaran Dharma. Naga berkepala sembilan melambangkan sembilan arah mata angin, yang dapat dipahami sebagai beragam jalan hidup, pilihan, dan tantangan yang dihadapi manusia sepanjang perjalanan hidupnya. Sementara itu, Dewa Ruci melambangkan tujuan akhir perjalanan manusia, yakni kembali kepada Tuhan dengan membawa Karma Phala, atau hasil dari setiap perbuatan yang telah dijalani. Melalui simbol-simbol tersebut, karya ini mengajak penonton untuk memahami bahwa kebenaran sejati tidak dicapai secara instan, melainkan melalui perjuangan batin yang jujur dan terus-menerus.
Pada akhirnya, karya ini layak diapresiasi sebagai ogoh-ogoh yang berhasil memadukan kekuatan visual dengan kedalaman makna budaya dan spiritual. Karya ini tidak hanya menghadirkan adegan yang kuat dari kisah pewayangan, tetapi juga menyampaikan pesan hidup yang tetap relevan bagi masyarakat masa kini. Dengan mengajak kita menjalani hidup seperti air yang terus mengalir dan tetap berpegang pada Dharma, ogoh-ogoh ini meninggalkan kesan yang hangat, bermakna, dan pantas dikenang sebagai bagian dari dokumentasi budaya yang bernilai.