Durtala

Durtala

Durtala adalah ogoh-ogoh karya ST. Yowana Sawitra, Br. Abiantimbul, Desa Pemecutan Kelod, Denpasar Barat. Dibangun dengan gagasan besar tentang alam semesta dan kerusakan yang dapat terjadi ketika keseimbangannya terganggu.

Karya ini lahir sebagai respons artistik terhadap peristiwa bencana banjir di Kota Denpasar pada 9 September 2025, serta banjir dan tanah longsor di Kabupaten Jembrana pada akhir November 2025. Melalui judul dan tema yang diangkat, ogoh-ogoh ini hadir bukan sekadar sebagai karya visual, melainkan juga sebagai media refleksi atas hubungan manusia dengan alam yang semakin rapuh.

Secara visual, Durtala disusun sebagai komposisi yang sarat simbol dan lapisan makna. Sosok-sosok seperti Bedawang Nala, Kala Tala-Tala, Dewi Basundari, hingga Naga Antaboga membentuk gambaran alam semesta yang tidak lagi berada dalam keadaan utuh dan harmonis. Kehadiran unsur air, dunia, tangga bertingkat, serta figur-figur penyangga memberi kesan bahwa ogoh-ogoh ini tidak hanya menampilkan satu tokoh utama, tetapi sebuah sistem kosmis yang sedang goyah. Penampilannya kemungkinan besar menonjolkan benturan antara harmoni dan kerusakan, antara kekuatan penjaga dan akibat dari kelalaian manusia.

Latar belakang penciptaan Durtala berangkat dari gagasan tentang lapisan alam semesta yang mengalami kerusakan. Inspirasi utamanya jelas terhubung dengan bencana nyata yang terjadi, terutama banjir dan longsor, lalu diterjemahkan ke dalam bentuk simbolik melalui tokoh-tokoh dan elemen mitologis. Bedawang Nala dimaknai sebagai sang penyangga dunia yang posisinya miring, menandakan goyahnya harmoni akibat pembangunan dan pengelolaan alam yang mengabaikan keseimbangan. Sementara itu, Kala Tala-Tala hadir sebagai raksasa air, Dewi Basundari sebagai perpaduan unsur ibu pertiwi dan air, serta Naga Antaboga sebagai lambang kesejahteraan dan harmoni yang justru tampak tidak lagi mampu menstabilkan keadaan.

Secara filosofis, Durtala menyampaikan pesan bahwa bencana tidak semata-mata lahir dari faktor alam, tetapi juga dari perilaku manusia sendiri. Visual alam semesta yang rusak, aliran air yang berubah dari sumber kehidupan menjadi sumber ancaman, serta tangga bertingkat pada beti alas undagan menegaskan bahwa kehancuran sering terjadi melalui proses yang panjang dan bertahap. Dalam konteks ini, ogoh-ogoh tersebut mengkritik kelalaian manusia dalam menjaga fungsi alam, sekaligus mengingatkan bahwa keseimbangan harus dirawat sejak awal sebelum kerusakan tumbuh menjadi bencana. Pesan moralnya kuat: alam yang dijaga akan menopang kehidupan, sedangkan alam yang diabaikan akan memberi respons yang keras.

Sebagai sebuah karya budaya, Durtala layak diapresiasi karena mampu memadukan estetika ogoh-ogoh dengan narasi sosial dan ekologis yang relevan dengan kehidupan masa kini. Karya ini tidak hanya menyuguhkan kemegahan visual, tetapi juga menghadirkan perenungan mendalam tentang hubungan antara manusia, alam, dan tanggung jawab bersama. Dengan demikian, Durtala menjadi lebih dari sekadar representasi sosok menyeramkan atau megah di malam pengarakan, melainkan sebuah dokumentasi artistik tentang peringatan, kesadaran, dan harapan agar keseimbangan alam kembali dijaga.

ogohogoh.com